love in plores!!!

love in plores!!!
kampusQu

Minggu, 15 April 2012

Productive and receptive

The first major distinction that must be made when evaluating word knowledge is whether the knowledge is productive (also called active) or receptive (also called passive) and even within those opposing categories, there is oftentimes no clear distinction. Words that are generally understood when heard or read or seen constitute a person's receptive vocabulary. These words may range from well-known to barely known (see degree of knowledge below). In most cases, a person's receptive vocabulary is the larger of the two. For example, although a young child may not yet be able to speak, write, or sign, he or she may be able to follow simple commands and appear to understand a good portion of the language to which he or she is exposed. In this case, the child's receptive vocabulary is likely tens, if not hundreds of words but his or her active vocabulary is zero. When that child learns to speak or sign, however, the child's active vocabulary begins to increase. It is possible for the productive vocabulary to be larger than the receptive vocabulary, for example in a second-language learner who has learned words through study rather than exposure, and can produce them, but has difficulty recognizing them in conversation.

Productive vocabulary, therefore, generally refers to words which can be produced within an appropriate context and match the intended meaning of the speaker or signer. As with receptive vocabulary, however, there are many degrees at which a particular word may be considered part of an active vocabulary. Knowing how to pronounce, sign, or write a word does not necessarily mean that the word has been used to correctly or accurately reflect the intended message of the utterance, but it does reflect a minimal amount of productive knowledge.

Second Language Vocabulary Acquisition

Learning vocabulary is one of the first steps of learning a second language, yet a learner never finishes vocabulary acquisition. Whether in one’s native language or a second language, the acquisition of new vocabulary is a continual process. Many methods can help one acquire new vocabulary.

[edit] Memorization

Although memorization can be seen as tedious or boring, associating one word in the native language with the corresponding word in the second language until memorized is considered one of the best methods of vocabulary acquisition. By the time students reach adulthood, they generally have gathered a number of personalized memorization methods. Although many argue that memorization does not typically require the complex cognitive processing that increases retention (Sagarra & Alba, 2006),[12] it does typically require a large amount of repetition, and spaced repetition with flashcards is an established method for memorization, particularly used for vocabulary acquisition in computer-assisted language learning. Other methods typically require more time and longer to recall.

Some words cannot be easily linked through association or other methods. When a word in the second language is phonologically or visually similar to a word in the native language, one often assumes they also share similar meanings. Though this is frequently the case, it is not always true. When faced with a false cognate, memorization and repetition are the keys to mastery. If a second language learner relies solely on word associations to learn new vocabulary, that person will have a very difficult time mastering false cognates. When large amounts of vocabulary must be acquired in a limited amount of time, when the learner needs to recall information quickly, when words represent abstract concepts or are difficult to picture in a mental image, or when discriminating between false cognates, rote memorization is the method to use. A neural network model of novel word learning across orthographies, accounting for L1-specific memorization abilities of L2-learners has recently been introduced (Hadzibeganovic & Cannas, 2009).

Depth of knowledge

The differing degrees of word knowledge imply a greater depth of knowledge, but the process is more complex than that. There are many facets to knowing a word, some of which are not hierarchical so their acquisition does not necessarily follow a linear progression suggested by degree of knowledge. Several frameworks of work knowledge have been proposed to better operationalise this concept. One such framework includes nine facets:

  1. orthography - written form
  2. phonology - spoken form
  3. reference - meaning
  4. semantics - concept and reference
  5. register - appropriacy of use
  6. collocation - lexical neighbours
  7. word associations
  8. syntax - grammatical function
  9. morphology - word parts


Pengantar pada Sidang Kabinet Paripurna

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati, Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia dan Peserta Sidang Kabinet Paripurna sekalian yang saya cintai,

Alhamdulillah, hari ini kita dapat kembali menyelenggarakan Sidang Kabinet Paripurna untuk membahas persoalan terkini, utamanya langkah-langkah lanjutan yang mesti kita lakukan setelah APBN Perubahan Tahun 2012 ditetapkan.

Sebagaimana Saudara ketahui dan rasakan bahwa situasi politik dan sosial, minggu-minggu terakhir ini, bukan hanya dinamis tetapi juga terasa menghangat, bahkan memanas. Dalam kehidupan sebuah negara demokrasi, hal ini bisa terjadi.

Kalau Saudara masih ingat, karena sebagian besar bersama-sama saya selama hampir delapan tahun ini menjalankan roda pemerintahan dan memimpin negara, beberapa kali kita juga menghadapi situasi seperti ini, dan hampir semuanya, itu totalitas dari berbagai persoalan yang mengemuka, termasuk faktor-faktor pengaruh perkembangan pada tingkat dunia terhadap perekonomian kita, terhadap kehidupan nasional kita.

Yang penting, Saudara-saudara, pemerintah, kita semua, harus tetap tenang, berpikir jernih dan rasional. Kita kembalikan semuanya kepada misi dan tanggung jawab kita sebagai pemerintah: menjalankan roda pemerintahan, melanjutkan pembangunan, melindungi kehidupan rakyat, seraya meningkatkan kesejahteraannya. Sebuah misi yang diamanatkan kepada saya dan Wakil Presiden dan juga pemerintah yang saya pimpin sekarang ini.

Tadi malam, dalam sebuah proses politik yang amat dinamis di tingkat Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, telah ditetapkan APBN Perubahan Tahun 2012. Tentu setelah ini, kita akan melakukan konsolidasi, tidak boleh terlalu lama, satu-dua minggu kita berkonsolidasi, menata segalanya, setelah itu bergerak ke depan lagi untuk menjaga perekonomian kita, untuk menjalankan tugas-tugas kita, baik tugas pemerintahan umum maupun tugas pembangunan.

Sidang Kabinet Paripurna malam hari ini dirancang untuk mendapatkan penjelasan yang utuh dari menteri terkait, yang berkaitan dengan APBNP Tahun 2012. Usulan-usulan kita yang telah kita sampaikan kepada DPR RI, setelah melalui pembahasan yang sangat intensif dan serius, akhirnya ditetapkanlah tadi malam itu menjadi APBNP. Tentu ada implikasi, ada konsekuensi, dan ada tugas-tugas lanjutan yang mesti dijalankan oleh pemerintah untuk mencapai sasaran APBN, katakanlah begitu, ataupun sasaran pembangunan ekonomi kita.

Setelah sidang ini, nanti saya akan memberikan penjelasan yang saya tujukan kepada seluruh rakyat Indonesia, dan juga kepada para pelaku ekonomi, dan pelaku dunia usaha, baik domestik maupun dari negara sahabat, karena saya tahu mereka sangat peduli dengan kebijakan kita, dengan APBN kita, dan apa saja yang akan dilaksanakan oleh Indonesia, utamanya oleh pemerintahnya, untuk menjaga ekonomi kita, seraya menjaga pertumbuhan yang positif.

Demikianlah yang menjadi tujuan dan agenda dari Sidang Kabinet Paripurna kita pada malam hari ini. Setelah break nanti, saya persilakan Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, dan Menteri ESDM untuk melaporkan ke hadapan sidang hal-hal yang esensial dari APBNP Tahun 2012.

Demikian pengantar saya, Saudara-saudara.

Angka Kemiskinan akan Turun Kalau Korupsi Turun

Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), M Yusuf menegaskan pengentasan kemiskinan hanya sebatas wacana jika tidak diikuti penurunan angka korupsi.

Diitegaskan Yusuf, angka kemiskinan akan turun kalau angka korupsi yang merampas hak-hak dan uang rakyat juga menurun. Menurutnya, pemberantasan korupsi kini bila hanya pidana penjara sudah dirasakan tidak efektif dan tidak menimbulkan efek jera. Terlebih hukuman penjara sendiri umumnya sangat ringan tidak sebanding dengan nilai uang yang dikorupsi.

Maka, katanya, diperlukan terobosan baru dan tindakan konkret sehingga rasa keadilan dan perlindungan kepada kepentingan masyarakat luas. Dan, akhirnya itu juga sejalan dengan upaya pemerintah mengentaskan angka kemiskinan.

"Salah satu terobosan yang mungkin dilaksanakan dalam upaya memberantas tindak pidana korupsi di Indonesia yaitu melalui pemiskinan koruptor," ujarnya dalam Seminar Nasional 'Efektivitas Penggunaan UU No8 tahun 2010, di Kantor PPATK, Jakarta, Senin (16/4/2012).

Karenanya, keberadaaan UU No8/2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU) dapat digunakan untuk mendukung upaya pemberantasan korupsi di Indonesia dan pemiskinan koruptor.

PDIP: Interpelasi Bukan untuk Menyerang Dahlan Iskan

aJakarta PDI Perjuangan menegaskan interpelasi kebijakan Menteri BUMN bukan untuk menyerang Dahlan Iskan secara pribadi. Namun, interpelasi sebagai kontrol atas kebijakan pemerintah.

"Soal teknis tersebut partai menyerahkan kepada Fraksi PDI Perjuangan DPR, kalau toh anggota fraksi mengajukan usul interpelasi terkait pada kebijakan/keputusan pemerintah bukan pribadi menterinya," kata Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo, saat dihubungi wartawan, Senin (15/4/2012).

Pandangan senada disampaikan Wasekjen PDIP Ahmad Basarah. Menurut Basarah, interpelasi hanya sebagai bentuk fungsi pengawasan DPR.

"Surat Keputusan Meneg BUMN nomor 236/MBU2011 yang membolehkan direksi BUMN dipilih secara langsung oleh deputi menteri BUMN tanpa melalui proses pengajuan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) atau tim penilai akhir (TPA) jelas menabrak norma dalam UU BUMN," ujarnya.

Selain itu, menurut Basarah, SK Menteri BUMN tersebut sangat rawan intervensi berbagai kepentingan karena rentang kendali proses pengangkatan direksi BUMN menjadi sentralistis.

"Dahlan Iskan boleh saja melakukan berbagai terobosan manajerial dalam membina BUMN, tapi terobosan tersebut hendaknya tetap memperhatikan kaidah dan norma hukum yang telah mengaturnya. Sentralisasi pengangkatan direksi BUMN tersebut patut diduga sebagai bagian dari konsolidasi finansial kekuatan politik tertentu menghadapi Pileg dan Pilpres 2014 mendatang," papar dia.

Ibu Muda Diadili Karena Anaknya yang Masih Balita Tewas Tertimpa TV

London, Sungguh tragis. Seorang ibu muda harus diadili atas kematian putranya sendiri yang masih berusia 4 bulan. Balita tersebut tewas akibat kepalanya tertimpa televisi saat di rumah.

Sang balita, Kian McMillan, harus dilarikan ke rumah sakit pasca tertimpa televisi saat berada di rumahnya di Burnley, Lancashire, Inggris. Kian bahkan sempat dipindahkan dari Royal Blackburn Hospital ke rumah sakit anak di Royal Manchester Children’s Hospital.

Namun sayangnya, Kian yang menderita cedera kepala parah ini akhirnya dinyatakan meninggal dunia kurang dari 24 jam setelah kejadian. Balita malang ini meninggal dunia pada 7 Desember 2011 lalu, dini hari. Demikian seperti dilansir oleh Daily Mail, Jumat (13/4/2012).

Insiden ini tentu sangat menyedihkan bagi orangtua Kian. Tapi sungguh tragis, polisi justru menetapkan kedua orangtua Kian sebagai tersangka dalam kasus ini. Keduanya dinyatakan lalai menjaga buah hati mereka yang masih balita hingga berujung pada kematian.

Sang ibunda, Natalie McMillan (24), dikenai dakwaan atas tindak kelalaian yang berujung pada hilangnya nyawa seseorang dan tindak kekejaman terhadap anak. Sedangkan sang ayah, Edward Hanratty (40) dijerat dakwaan tindak kekejaman terhadap anak.

"Keduanya, yang bebas bersyarat setelah membayar jaminan, wajib hadir dalam persidangan di Pengadilan Burnley, pada 1 Mei mendatang," ujar juru bicara kepolisian setempat.

Pelajaran Berharga dari Pak Raden

Mungkin sudah banyak yang membahas mengenai nasib Pak Raden yang tidak bisa menerima royalti di hari tuanya. Saya pun turut prihatin akan nasib beliau. Semoga urusan royalti ini akan berakhir indah untuk Pak Raden bersama si Unyil-nya dan menjadi pelajaran berharga akan pentingnya mengurus royalti dari hasil karya anak bangsa.

Di sisi lain, ada satu pelajaran berharga yang dapat kita tarik dari pengalaman hidup Pak Raden khususnya dan para artis ‘sepuh’ yang kini sudah tidak lagi bersinar. Sebut saja Kris Biantoro yang di masa tuanya digerogoti penyakit gagal ginjal. Laila Sari yang hidup pas-pasan di sebuah rumah sempit di pinggiran kota Jakarta. Yati Surachman yang sudah membintangi banyak sekali film maupun sinetron. Atau Aminah Cendrakasih yang pada masa tuanya masih berperan sebagai Emak di sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

Mungkin ketika masih berjaya dan bergelimang harta banyak artis yang sama sekali tidak membayangkan seperti apa masa tua mereka. Karena mudah sekali mendapat uang yang berlimpah, sebagian besar suka menghambur-hamburkan uang sebagai bagian dari gaya hidup selebritis. Padahal bila seorang artis sudah tidak ‘laku’ lagi, ia tak akan mendapatkan uang pensiun atau pesangon layaknya pegawai.

Hanya sebagian kecil selebritis yang sadar akan nasib mereka di masa tua. Artis smart ini mempersiapkan investasi untuk persiapan bila mereka sudah kehilangan pamor. Sebut saja Inul Daratista yang dulu sempat ‘booming’ dengan goyangan ngebornya. Sebelum pamornya jauh merosot, Inul sudah menginvestasikan hartanya untuk rumah karaoke keluarga “Inul Vizta’ yang menjamur di beberapa kota. Titi Kamal, yang punya bisnis restoran dan butik. Anjasmara yang kini sibuk di belakang layar sebagai produser film. Atau Dude Harlino yang bekerjasama dengan beberapa teman artisnya membuka restoran Jepang. Patut diacungi jempol untuk para artis ini. Karena banyak sekali artis yang terbiasa hidup glamour, ketika jatuh miskin menjadi stress bahkan jatuh ke dalam jeratan narkoba. Naudzubillahimindzaalik.

Lalu bagaimana dengan kita yang nota bene bukan artis? Apakah kita perlu juga berinvestasi? Tentu saja kita tak boleh kalah dengan para artis smart ini. Karena pegawai dari perusahaan besar sekali pun, mau tak mau akan pensiun juga suatu saat nanti. Kalau sudah pensiun, tentu saja penghasilan akan merosot drastis. Itu kalau perusahaan memberikan uang pensiun atau pesangon. Kalau tidak?

Sesedikit apa pun punya uang simpanan itu perlu. Semakin banyak semakin bagus. Bila memungkinkan untuk berinvestasi, tunggu apalagi? Banyak sekali ragam investasi yang bisa kita pilih. Bisa berupa bisnis: restoran, butik, toko, atau perusahaan jasa. Bisa juga berupa benda: tanah, rumah, emas batangan, dinar, atau pun asuransi. Bagaimana dengan kendaraan? Menurut saya kendaraan bukanlah benda investasi karena harganya cenderung menurun setiap tahunnya. So, perlu bersikap bijaksana dalam mempergunakan uang. Selagi mampu tak ada salahnya untuk berinvestasi.

Roda kehidupan akan terus berputar dan siapa yang tak siap akan tergilas olehnya.

Sabtu, 31 Maret 2012

10 contoh kalimat pasif dan aktif

Contoh kalimat pasif 10 Negatif bahasa Inggris:
· Students were not helped by the lecturer
· Ice cream was not eaten by Adi
· The ball was kicked by irfhan bachdim
· Schools were no longer built by the government
· Mumu was not hit by Deny
· Criminals were arrested by police Tasikmalaya
· Inducement was made by Adi
· Criminals be tried by judge
· Computer was slammed by Bagas
· The cat was kicked by Adi
Contoh kalimat 10 Aktif bahasa Inggris Tanya:
· Is Adi hit Mumu?
· Is the person holding the flag?
· Does the school was built by the government?
· Is the man kicked me?
· Is it raining today?
· Is the boss fire me?
· Does she have a car?
· Is this marriage was built denganc INTA?
· Did they believe me?
· Is Diana loves me?